Fajar telah datang, dan embun pun masih bertebaran. Ternyata pukul 05.20, Gilang terbangun dan segera membasuh tubuhnya dengan berwudhu. Lalu, dalam sholatnya ia berdo’a, “semoga dia baik-baik saja dan bahagia bersama orang yang dicintainya disana… ya Allah, beri aku kekuatan untuk melupakan rasa yang tak mungkin baginya.. dan kirimkan aku sosok cinta agar dapat menerangkan hatiku yang suram ini…”
Tak sadar ia teringat-ingat akan gadis yang dulu ia cintai. Suci ananda, itulah namanya. Suci selalu menjadi inspirasi untuk membuat semua karya tulisnya, mulai dari cerpen hingga lirik lagu. Namun satu hal, Gilang benci dengan sifat suci, kenapa waktu itu Suci memilih Gilang yang bukan orang pilihan dihatinya?. Meski hatinya tergores, ia rela memberi arahan agar suci kembali kepada cintanya. Yaitu seseorang yang mungkin telah melekat dalam hati Suci saat itu, tetapi bukan Gilang.
Telah dicoba berbagai cara untuk melupakannya, namun yang terlintas dalam pikiran Gilang hanyalah Suci. Sungguh, rasa cinta yang lama dijaganya itu sangat menyakitkan dan membuat ia terus terlarut dalam sebuah kesedihan.
Hingga suatu siang, ia bertemu dengan sesosok gadis cantik berkerudung putih. Gadis itu tak sengaja hadir lewat jejaring sosial semenjak sebulan yang lalu, setelah Gilang pindah ke kota asal meninggalkan Suci dan keluarganya untuk melanjutkan hobbinya dalam dunia hip hop. Hatinya seakan didingankan oleh suasana. Baru pertamakali bertemu, ia langsung tercanggung dan merasakan cinta yang datang kembali.
Kini, Gilang sedikit demi sedikit dapat melupakan kenangan pahitnya bersama Suci. Gilang semakin yakin, bahwa kehadiran gadis itu dapat mengisi kekosongan dihati. Karena Allah telah menitipkan gadis solehah yang mampu membuatnya tersenyum saat gundah.
Beberapa hari setelah bertemu dengan Safa gadis berkerudung itu, ia memberanikan diri untuk meneleponnya.
“hallo, assalamualaikum…”
“waalaikumsalam…”
“Safa, tahukah kau? Setelah bertemu dan sebelum kita bertemu pun, aku telah mengagumimu .. dan aku tak dapat menghilangkan rasa itu.. aku… suka kamu”
“hmm.. begitu…”
“kok kayak gak percaya gitu sih?”
“ya.. harus gimana lagi, aku bingung..”
“harus gimana lagi? kok gitu, aku gak enak jadinya.. Safa, aku tahu memang terlalu cepat untuk mengungkapkan ini semua. Tapi, maukah kau menemani hari-hariku dalam setiap lirikku yang kosong..?”
“maksudnya?”
“aku ingin menjadi bintang hatimu”
Tuut… tutt…
Tiba-tiba telepon terputus, dan dilanjutkan lewat SMS. Akhirnya Safa menerima Gilang, karena ia tahu dan mengenal ketulusan Gilang dengan semua cerita-ceritanya tentang Suci selama sebelum bertemu. Dan Gilang pun berharap, bahwa Safa tak menyakiti hatinya seperti halnya Suci. Safa dapat menerima itu, ia mencoba memahami arti hadir Gilang dalam kisahnya. Mereka pun menjalani cerita cinta, walau sekarang jarak mereka terpisah jauh setelah Gilang memutuskan untuk kembali ke keluarganya dalam waktu lima bulan, untuk meneruskan sekolahnya.
Terkadang, sulit untuk mengartikan cinta saat mereka harus merasakan ‘Long Distance Relationship’. Namun, Itulah kenyataan. Hanya ada rasa saling percaya dan mengerti satu sama lain untuk menghindari rasa curiga karena keadaan.
